Entri Populer

Senin, 19 Januari 2015

Nyentriknya Bupati Purwakarta

TERIK matahari siang itu menyengat tajam. Jarum jam menunjukkan pukul 11.30 WIB menandakan cerah cuaca tengah di titik klimaks. Namun, embusan angin sepoi menjadi penanding sejuknya suasana. Ya, itulah kondisi Kabupaten Purwakarta, Rabu 24 September kemarin. Suasana panas seketika berubah saat memasuki Jalan Gandanegara Nomor 25. Rimbunnya pepohonan besar mampu menangkal sinar mentari yang tengah unjuk diri. Selain sejuk, kondisi di tempat tersebut sangat bersih, nyaris tak ada sampah yang berserak di jalanan. Dua personel Satpol PP yang menjaga gerbang, tak mengizinkan mobil memasuki halaman luas tersebut. Dan memang, tak nampak satu pun mobil di kompleks perkantoran itu. Seluruh kendaraan terlihat parkir berderet di luar kantor. Tak berselang lama, Okezone ditemani Sapol PP tadi menuju sebuah rumah besar yang di luarnya terdapat sejumlah pria berbaju pangsi (pakaian khas sunda) warna hitam, lengkap dengan ikat kepala dan tanpa beralas kaki di teras pendopo yang bersih tadi. Mereka bukanlah jawara bukan pula preman sewaan, melainkan para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bertugas menjadi protokol Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. “Selamat datang, mari masuk Pak Bupati sudah ada dalam,” ujar seorang protokoler sambil mengumbar senyum. Tak disangka, rumah yang nampak tua dari luar ternyata berbanding jauh dengan kondisi dalamnya yang sangat indah, sejuk, modern, tanpa dipenuhi barang mahal tapi tetap elegan. Warna putih dan hitam sangat mendominasi ruangan ini. Hampir di setiap dinding terdapat lukisan berukuran besar yang sarat nilai seni. Seperti lukisan Ratu Pantai Selatan, lukisan harimau putih, lukisan Presiden Soekarno, dan lukisan Garuda Pancasila. Sejumlah piala dan penghargaan pun nampak berderet di sebuah sudut dekat pintu. Yang menjadi berbeda dengan ruang kerja kepala daerah lainnya, tidak satu pun di ruangan ini yang mengenakan alas kaki alias nyeker di atas karpet tebal berwarna hitam putih. Semua sepatu dan sandal harus ditanggalkan di teras depan. Sekira lima menit duduk di kursi jati yang berbaris membentuk lingkaran, terbukalah pintu warna putih berukuran tinggi dari salah satu ruangan, dan munculah seorang lelaki perawakan sedang dengan mengenakan pakaian pangsi dan ikat kepala warna putih. Sambil memegang gadget tablet, pria berkumis tipis ini langsung mengumbar senyum dan mengajak masuk ruangan. Ya, dialah Dedi Mulyadi si Bupati nyentrik dari Bumi Purwakarta. “Nyasar teu kadieu? Saya oge karek nepi kantor ti isuk nguliling kaditu kadieu (nyasar tidak ke sini? Saya juga baru sampai kantor dari pagi keliling ke sana kemari),” kata Dedi dengan logat Sunda yang sangat kental. Sesekali, Dedi membuka tabletnya untuk membalas Twitter dari followernya. “Alhamdulillah lewat Twitter interaksi sama warga jadi lebih mudah. Meski orang desa, kita tidak boleh ketinggalan zaman. Jangah heran kalau di Twitter saya banyak membahas sawah, kambing, sapi dan padi,” kata pria yang sudah tujuh tahun menjabat Bupati Purwakarta ini. Dalam kesempatan ini, Dedi bercerita bahwa dia kerap mengenakan pakaian khas Sunda saat menjalankan tugasnya. Hal ini dilakukan Dedi sebagai rasa bangga dan ingin menjaga nilai-nilai budaya Sunda. “Awalnya saya sering ditegur saat menghadap pejabat dengan mengenakan ini, tapi lama-lama mereka sudah bisa menerima saya. Ya, ini lah saya,” tukasnya. Pria yang lahir di Kampung Sukadaya Subang 43 tahun silam ini memiliki alasan kuat dengan busana yang dikenakannya. Dedi ingin jiwa dan budaya tanah leluhurnya tak hilang dimakan zaman. “Dengan pakaian seperti ini otomatis gaya hidup saya menjadi nyunda. Tidak mungkin saya mengenakan pakaian ini masuk mall dan atau di kafe, secara otomati gaya makan saya tetap Sunda,” tegas kader Partai Golkar ini. Keberanian Dedi yang berpakaian ala sunda di era globalisasi bukan berarti tanpa hambatan. Dedi kerap dituding pengikut kepercayaan Sunda Wiwitan yang dinilai kontroversi. Namun, Dedi tak hirau dengan penilaian negatif itu. Untuk persoalan kepercayaan, Dedi tetap menjadi seorang muslim yang taat. Hanya saja, dirinya ingin menjaga dan melestarikan nilai-nilai khas Sunda. “Alhamdulillah pakaian ini juga dikenakan para PNS. Bahkan saya senang sekali pakaian pangsi menjadi seragam wajib satu hari bagi siswa anak sekolah di Bandung,” tutur pria yang sebelumnya pernah menjabat Wakil Bupati Purwakarta ini. Dedi pun bercerita banyak perjalanannya selama menjabat sebagai Bupati. Purwakarta hanyalah daerah kecil di Jawa Barat. Namun di kepemimpinan Dedi, kabupaten yang memiliki 17 kecamatan ini tumbuh menjadi wilayah yang aman, nyaman, damai dan sejahtera. Purwakarta boleh dibilang jarang disorot publik karena persoalan yang tak diinginkan. “Alhamdulillah kesehatan warga kita sudah terjamin, pendidikan warga kita terjamin, angka kemiskinan di sini dapat dikendalikan. Silakan saja anda berkeliling Purwakarta dan berbincang dengan masyarakat, bagaimana kondisi Purwakarta saat ini?” pungkas ayah dari dua anak ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar